Showing posts with label cloud. Show all posts
Showing posts with label cloud. Show all posts

Thursday, June 15, 2023

Strategi Cloud untuk Menghindari Biaya yang Mahal

Artikel ini tersedia dalam bahasa Inggris di Medium.

Komputasi awan merujuk pada penyediaan berbagai layanan komputasi melalui internet. Layanan ini meliputi server, penyimpanan data, basis data, jaringan, perangkat lunak, analitik, dan kecerdasan buatan. Alih-alih menyimpan data di perangkat lokal, penyimpanan berbasis awan memungkinkan pengguna menyimpan data ke dalam basis data jarak jauh yang dapat diakses dari perangkat elektronik apa pun yang terhubung ke internet.

Dengan mengadopsi komputasi awan, bisnis dapat menghilangkan biaya modal awal yang terkait dengan pembelian perangkat keras, perangkat lunak, serta pembentukan dan pemeliharaan pusat data lokal yang dapat mahal dan memakan waktu. Sebaliknya, pengguna hanya membayar untuk layanan awan yang mereka gunakan secara spesifik, yang menghasilkan penurunan biaya operasional, peningkatan efisiensi infrastruktur, dan kemampuan untuk menyesuaikan sumber daya sesuai dengan kebutuhan bisnis yang berubah.

Setidaknya itulah pemahaman umum tentang komputasi awan.

Biaya yang tersembunyi

Namun, hati-hati: tanpa perencanaan yang tepat, komputasi awan dapat menyebabkan biaya yang signifikan. Kegagalan dalam mengimplementasikan strategi pengelolaan biaya awan yang kuat dapat menghasilkan biaya yang tidak terkendali dan membengkak. Penting bagi pelanggan untuk memahami bahwa penyedia awan sering mengenakan biaya berdasarkan berbagai faktor, termasuk transfer data, overprovisioning (alokasi sumber daya yang berlebihan), underutilization (tidak memanfaatkan sumber daya yang dialokasikan secara penuh), under-provisioning (alokasi sumber daya yang kurang sehingga menyebabkan masalah kinerja), lokasi layanan, sumber daya komputasi yang lupa dimatikan, dan biaya migrasi. Bahkan bagi pelanggan besar, hanya membaca data dari awan dapat menjadi usaha yang mahal.

Transfer Data

Penting bagi bisnis untuk menyadari dampak yang dapat ditimbulkan oleh faktor-faktor ini terhadap biaya awan mereka. Biaya transfer data harus dipertimbangkan dengan hati-hati, terutama ketika menangani volume data yang besar.

Overprovisioning

Overprovisioning, di mana sumber daya yang lebih banyak dialokasikan daripada yang diperlukan, dapat menyebabkan pengeluaran yang tidak perlu. Demikian pula, underutilization dan under-provisioning dapat mengakibatkan ketidakefisienan dan peningkatan biaya.

Lokasi Layanan

Lokasi layanan awan juga dapat mempengaruhi biaya, karena setiap wilayah mungkin memiliki struktur harga yang berbeda. Bisnis harus mempertimbangkan implikasi biaya yang terkait dengan lokasi layanan untuk mengoptimalkan pengeluaran mereka berdasarkan kebutuhan spesifik.

Sumber Daya yang Lupa Dimatikan

Selain itu, organisasi harus waspada dalam mengidentifikasi dan mematikan sumber daya yang terlupakan — layanan awan atau sumber daya yang tidak lagi digunakan namun masih menimbulkan biaya. Pemantauan dan audit rutin terhadap sumber daya awan dapat membantu menghindari pengeluaran yang tidak perlu.

Migrasi

Biaya migrasi juga tidak boleh diabaikan, terutama saat beralih antar penyedia awan atau mengadopsi pendekatan multi-awan. Penting untuk mengevaluasi potensi biaya yang terkait dengan transfer data, rekonfigurasi, dan aktivitas migrasi lainnya untuk membuat keputusan yang terinformasi dan mencegah beban keuangan yang tidak terduga.

Rekomendasi

Dengan mengakui faktor-faktor biaya ini dan mengimplementasikan strategi pengelolaan biaya awan yang efektif, bisnis dapat memastikan kontrol yang lebih baik atas pengeluaran awan mereka.

Pendekatan yang bermanfaat adalah dengan memperkirakan biaya menggunakan alat kalkulator yang disediakan oleh penyedia awan, yang dapat membantu dalam memperkirakan pengeluaran sebelum mengkonfigurasi layanan awan.

Implementasi model awan hibrida juga dapat bermanfaat. Dengan mengalokasikan sebagian besar data secara strategis di pusat data on-premise dan menggunakan awan untuk kebutuhan pemrosesan tertentu, bisnis dapat mengoptimalkan biaya. Pendekatan hibrida ini memungkinkan kontrol yang lebih besar terhadap penempatan dan pemrosesan data, memberikan solusi yang hemat biaya yang menggabungkan manfaat infrastruktur on-premise dan awan.

Dengan mengadopsi strategi ini, bisnis dapat menghindari biaya awan yang berlebihan, memaksimalkan nilai yang diperoleh dari komputasi awan, dan mencapai lingkungan awan yang lebih efisien dan hemat biaya.

Friday, August 15, 2014

Rendering Video Animasi menggunakan Layanan Komputasi Awan

Siapa bilang orang Indonesia tidak bisa membuat film animasi yang bagus ? Ini contohnya http://www.dgmanimation.com/ adalah perusahaan film animasi yang bermarkas di Malang dan sudah menciptakan banyak film-film animasi 2D ataupun 3D dengan kualitas yang tidak kalah dengan buatan luar negeri.

Di bawah ini salah satu contoh animasi 3D ciptaan DGM Animation :

Film-film animasi seperti di atas bisa dibuat menggunakan Blender. Aplikasi ini bersifat open source dan tidak berbayar. Namun membutuhkan daya komputasi yang sangat tinggi untuk proses renderingnya. Rendering adalah proses pengubahan gambar rangka menjadi gambar yang photorealistic. Dengan menggunakan komputer modern, maka sebuah gambar rangka 3 dimensi bisa diubah menjadi photorealistic dalam waktu berhari-hari. Dan sebuah film animasi singkat berdurasi 7 menit bisa memakan waktu berminggu-minggu (atau berbulan-bulan tergantung dari resolusi dan kompleksitas gambarnya.

Proses ini bisa dipersingkat jika komputer yang digunakan untuk melakukan proses rendering diperbanyak. Karena keterbatasan dana, maka studio animasi pemula (seperti DGM Animation) biasanya melakukan proses rendering menggunakan komputer yang juga digunakan untuk merancang rangka-rangka gambar. Akibatnya rendering hanya bisa dilakukan ketika para animatornya sedang tidur.

Untuk mempercepat proses rendering ini maka studio animasi harus memiliki ratusan bahkan ribuan server khusus yang harganya sangat mahal. Namun di era komputasi awan sekarang ini, sebenarnya ada alternatif menarik untuk studio animasi kecil, yaitu menggunakan layanan komputasi awan untuk melakukan rendering.

Layanan komputasi awan merupakan alternatif yg sangat menarik karena layanan ini memiliki kekuatan komputasi yang relatif tidak terbatas dan bersifat fleksibel dan bisa disewa berdasarkan durasi renderingnya (bisa dalam hitungan jam).

Salah satu penyedia layanan komputasi awan yang bisa digunakan untuk keperluan ini adalah Microsoft, dengan layanan Azure “Big Compute”.

TIdak hanya bisa digunakan untuk rendering, Azure Big Compute ini juga bisa digunakan untuk berbagai keperluan yang sangat intensif menggunakan daya komputasi :

  • Membuat model resiko finansial
  • Menciptakan konten digital (seperti film animasi)
  • Penelitian genetik
  • Fluid dynamics
  • Finite element analysis
  • Prakiraan cuaca
  • Bio Informatika
  • Aplikasi Oil & Gas
  • dsb.

Microsoft Azure bisa menyediakan super komputer secara virtual dengan teknik clustering yang terdiri dari ribuan sampai ratusan ribu virtual machine yang masing-masing bisa memiliki sampai 16 core, 112 GB DRAM/core, dan saling tersambung melalui jaringan super cepat ( 32 Gbps infiniband).

Salah satu case study yang menarik adalah Green Button.

Green Button merupakan perusahaan penyedia jasa high performance computing (sekarang Green Button sudah diakuisisi oleh Microsoft) yang melayani perusahaan-perusahaan yang membutuhkan daya komputasi yang besar tapi hanya sesaat saja. Salah satu klien yang juga dilayani oleh Green Button adalah studio animasi yang perlu kekuatan komputasi besar untuk keperluan rendering. Dengan solusi Green Button untuk rendering ini, maka studio animasi akan melihat icon Green Button, dan begitu icon tersebut diklik maka pekerjaan rendering segera dikirim ke cluster head node di Azure (lihat gambar di bawah), untuk kemudian pekerjaan tersebut dipecah ke ribuan node di dalam cluster compute node. Begitu proses rendering selesai maka user akan mendapatkan notifikasi melalui email, dan user kemudian bisa mendownload film yang sudah selesai tersebut.

 

Compute nodes in A8 or A9 VMs 

Layanan komputasi awan ini juga bisa dihitung berapa biayanya. Ada kalkulator yang bisa diakses dari sini : http://azure.microsoft.com/en-us/pricing/calculator/?scenario=full 

Konfigurasi mesin yang diperlukan untuk render adalah A8 atau A9. Untuk A8 biayanya adalah USD 2.45/jam, dan A9 adalah USD 4.9/jam.

image

image

Silahkan jika ingin mencobanya dahulu, klik “free trial” di sudut kanan atas untuk mencobanya dengan gratis selama sebulan (atau setelah kreditnya habis) !

image

Wednesday, July 23, 2014

Internet of Things (IoT) – Berbagai Manfaat IoT

Internet of Things pernah saya bahas di sini.

image

Prediksi Bisnis IoT

  • Gartner mengatakan bahwa instalasi IoT akan tumbuh sampai 26 Milyar unit di tahun 2020, dan akan menghasilkan pendapatan tambahan melebihi USD 300 Milyar, sebagian besar di layanan. Hal ini akan berdampak terhadap value add ekonomi global sebesar USD 1.9 Triliun
  • IDC memprediksikan bahwa bisnis IoT akan mencapai USD 7.1 Triliun pada tahun 2020
  • McKinsey Global Institute menyebutkan bahwa potensi ekonomi IoT mencapai USD 2.7 Triliun sampai USD 6.2 Triliun pertahun di tahun 2025 (McKinsey Global Institute, Disruptive technologies: Advances that will transform life, business, and the global economy, May 2013)

 

Komponen-komponen IoT

IoT terdiri atas komponen-komponen : Platform Hardware, Gateway, Software (berjalan di papan micro-controller), dan Layanan Cloud (berjalan di cloud untuk keperluan pengumpulan data dan analisa).

 

Platform Hardware

Desain Modular

Beberapa pabrikan (seperti Libelium) memiliki hardware yang bersifat modular dan bisa dibangun berdasarkan kebutuhan.

image

Perangkat hardware modular ini terdiri dari sebuah papan micro-controller yang bisa dilengkapi dengan berbagai modul pilihan : modul sensor, wireless, dan konektor industri.

Desain Langsung Pakai

Libelium juga membuat perangkat hardware langsung pakai, sehingga pengembang tidak perlu merakit lagi. Perangkat langsung pakai ini sudah dibuat kedap air dan dilengkapi dengan beberapa soket untuk sensor, panel surya, antena, dan kabel USB untuk keperluan pemrograman.

 

image

Modul Sensor

Modul-modul sensor yang akan dihubungkan ke papan micro-controller (melalui soket atau wireless). Ada berbagai modul sensor yang bisa dipilih berdasarkan kebutuhan :

  1. Sensor gas yang bisa mendeteksi berbagai jenis gas, suhu, kelembaban, tekanan udara (atmosfir), dan bisa dipergunakan untuk mendeteksi polusi, emisi gas dari peternakan, pabrik kimia, industri, dan kebakaran hutan
  2. Sensor kejadian yang bisa mendeteksi tekanan/berat, kelengkungan, getaran, tabrakan, kemiringan, suhu, kelembaban, kebocoran air, ketinggian air/cairan, tingkat keredupan cahaya, kehadiran (manusia/hewan), rentangan, dsb. Sensor jenis ini bisa digunakan untuk berbagai aplikasi keamanan, darurat, atau logistik
  3. Sensor air yang bisa mendeteksi tingkat asam/basa, tingkat oksidasi, tingkat oksigen, konduktivitas, ion, temperatur, kelembaban, dsb. Bisa dipergunakan untuk mendeteksi apakah air bisa diminum, kebocoran bahan kimia di air (sungai misalnya), pengukuran tingkat asam basa di kolam renang, tingkat polusi di laut, dsb.
  4. Sensor lingkungan kota bisa mendeteksi tingkat keberisikan, keretakan (gedung/jalan layang/dsb), propagasi keretakan, pergeseran, debu, ultrasonic (untuk mengukur jarak), temperatur, kelembaban, perpendaran cahaya, dsb. Bisa diterapkan untuk memonitor tingkat keberisikan di jalan raya, tingkat kerusakan bangunan/infrastruktur jalan dan kecepatan perambatan kerusakan, kualitas udara, dan manajemen sampah
  5. Sensor parkir bisa mendeteksi medan magnit, dan bisa dipergunakan untuk mendeteksi keberadaan mobil dan mengalokasi tempat parkir di dalam maupun di luar gedung, dan mengontrol tempat parkir (paralel ataupun serial)
  6. Sensor pertanian bisa mendeteksi suhu udara, kelembaban, suhu tanah & kelembabannya, kelembaban dauh, tekanan udara, radiasi matahari, radiasi ultraviolet, diameter batang pohon, diameter cabang pohon, diameter buah, anemometer, kecepatan dan arah aliran udara, pantulan cahaya, dsb. Bisa dipergunakan untuk aplikasi pertanian, irigasi, rumah kaca, stasiun cuaca.
  7. Sensor arus, bisa mendeksi arus listrik , dan bisa dipergunakan untuk berbagai aplikasi seperti sensor, instrumentasi, transduser, pemantauan proses, transmisi data di industri, dsb
  8. Sensor kamera video, dengan kamera, detektor tingkat pantulan cahaya, infra merah, dan kehadiran (PIR), bisa dipergunakan untuk berbagai aplikasi keamanan
  9. Sensor radiasi, bisa mendeteksi radiasi beta dan gama, dan bisa dipergunakan untuk mendeteksi tingkat radiasi secara wireless tanpa membahayakan manusia, mencegah dan mengontrol radiasi, dan mengontrol radiasi di suatu daerah secara mandiri (tanpa perlu bantuan manusia)
  10. Sensor metering, mengukur arus listrik, arus air, tingkat ketinggian cairan, tekanan, ultrasonik, kelembaban, tingkat pantulan cahaya. Sensor metering ini bisa digunakan untuk berbagai aplikasi pengukuran energi, tingkat penggunaan air, deteksi kebocoran pipa, manajemen penyimpanan cairan, otomasi industri, irigasi pertanian, dsb
  11. Sensor prototip yang bisa dipergunakan untuk menghubungkan berbagai jenis sensor untuk keperluan prototip
Modul Wireless

Modul Wireless – diperlukan jika ingin saling terhubung menggunakan wireless. Modul-modul ini mendukung berbagai protokol wireless seperti :

  1. 802.15.4/ZigBee, jarak antara 7km (2.4GHz) s/d 12 km (868 MHz)
  2. Bluetooth low energy (BLE), jarak 100m
  3. WiFi
  4. 6LoWPAN/IPv6 Radio
  5. 3G + GPS
  6. GSM/GPRS
  7. Bluetooth PRO
  8. RFID/NFC
  9. Expansion Radio Board
  10. Gateway
Modul Koneksi Industri

Modul Interkoneksi Industri – mendukung berbagai konektor dengan standar industri, seperti RS-485, RS-232, Modbus, CAN Bus, dsb

Gateway

image

Gateway menghubungkan seluruh sensor ke layanan Internet atau infrastruktur IT (misalnya database internal atau di cloud untuk analisa Business Intelligence dsb). Gateway bisa terhubung melalui wireless (misalnya WiFi 2.4GHz, WiFi 5GHz, 3G/GPRS, Bluetooth dan ZigBee). Gateway juga bisa terintegrasi dengan modul GPS untuk aplikasi mobile di kendaraan, juga bisa diberi daya batere atau melalui sel surya. Perangkat ini bersifat anti air dan bisa diletakkan di luar.

Penjelasan tambahan di http://tonyseno.blogspot.in/2014/07/iotinternet-of-things-mengurangi.html 

Penerapan IoT

Beberapa penerapan IoT di berbagai bidang :

  1. Smart Cities – IoT bisa membantu membuat tata kelola kota yang efektif Walikota bisa melihat apa saja yang terjadi di kotanya melalui berbagai sensor secara real time, dan dengan demikian akan mampu mengatur tata kelola yang efektif, sehat, nyaman dengan tingkat keberisikan yang rendah, bebas macet, hemat energi, sistem pembuangan sampah yang optimal, dan jalan-jalan raya yang bebas macet.
  2. Smart Mall – IoT bisa mendeteksi kehadiran orang-orang yang ada di dalam suatu mall : berapa tingkat kepadatan pengunjung, berapa lama rata-rata orang berdiam diri di suatu tempat, berapa banyak pegawai dan berapa banyak tamu yang lalu lalang, mana toko yang paling ramai, mana etalase toko yang paling menarik perhatian, dsb
  3. Smart Traffic – IoT juga bisa menganalisa lalu lintas kendaraan bermotor di jalan, mulai dari tingkat kemacetan di jalan, kecepatan rata-rata kendaraan bermotor, jalan alternatif jika ada kemacetan, dsb
  4. Smart Environment – IoT bisa mewujudkan lingkungan yang sehat dan aman, misalnya melalui detektor kebakaran hutan, polusi udara, deteksi dini gempa bumi/tsunami, dan berbagai bencana alam lain
  5. Smart Water – IoT bisa membantu kita mendapatkan air yang sehat, bersih, bebas polusi, bebas pencemaran bahan kimia di sungai, di laut, maupun di pipa-pipa air, dan deteksi dini terhadap banjir
  6. Smart Metering – IoT bisa membantu kita mengetahui penggunaan daya listrik, atau semua komponen yang terkait dengan sistem pembangkitan tenaga listrik, mulai dari tingkat ketinggian/tekanan/aliran air, bahan bakar, atau gas dan sebagainya.
  7. Security and Emergencies – IoT bisa digunakan untuk mendeteksi manusia di suatu area, mendeteksi cairan, radiasi, gas-gas yang bisa meledak. IoT bisa meningkatkan keamanan dan membantu dalam situasi darurat
  8. Retail – IoT bisa digunakan untuk memonitor pengiriman barang, pembayaran melalui NFC, melihat tanggal kedaluwarsa, dan menggatur rotasi/penyimpanan barang di gudang.
  9. Logistics – IoT bisa digunakan untuk mendeteksi getaran, buka tutup pintu, mencari lokasi barang di gudang, mendeteksi kebocoran gas, sehingga bisa digunakan untuk memonitor kondisi pengiriman barang, mencari barang, mencari lokasi penyimpanan yang paling baik untuk memisahkan gas yang mudah terbakar dan bahan peledak, melacak perjalanan kapal tanker, dsb
  10. Industrial Control – IoT bisa digunakan untuk diagnosa mesin, monitor gas beracun, tingkat oksigen, temperatur, ozon, dsb, sehingga bisa digunakan di dalam industri
  11. Smart Agriculture – IoT bisa digunakan untuk mendeteksi kelembaban tanah, udara, ukuran batang pohon, cuaca, suhu, dsb, sehingga bisa digunakan untuk mendorong usaha pertanian,
  12. Smart Animal Farming – IoT bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan ternak, mendeteksi gas beracun, dsb sehingga bisa digunakan untuk mengontrol kembang biak ternak, melacak keberadaan ternak, dan memastikan usaha peternakan berkembang dengan maksimal
  13. Home Automation – IoT bisa digunakan untuk memonitor penggunaan energi, air, mendeteksi pintu/jendela terbuka/tertutup, mendeteksi keberadaan manusia/binatang, sehingga bisa digunakan untuk mewujudkan rumah yang hemat energi dan aman.
  14. E-Health – IoT memungkinkan perangkat-perangkat wearable sampai tablet (pil) bisa saling tersambung. Ini akan mendorong industri wearable sensor, sampai tablet (pil), dan sensor yang bisa ditanam di dalam tubuh manusia.
  15. Banking Industry – IoT bisa memanfaatkan IoT untuk mendapatkan konektivitas di manapun. IoT mewujudkan mesin-mesin ATM dan POS (mesin kasir) yang terhubung supaya biaya operasi lebih murah dan juga meningkatkan pendapatan.

Friday, July 4, 2014

IOT–Internet of Things mengurangi berbagai kebocoran melalui Teknologi

Heboh debat capres yang menekankan peningkatan ekonomi melalui penanganan kebocoran negara. Menggunakan teknologi terkini, berbagai sumber pendapatan negara bisa dimonitor, dan dengan sendirinya berbagai anomali penyebab kebocoran juga bisa dideteksi sedini mungkin.

Contoh Kebocoran

Ada banyak sekali sumber kebocoran di Indonesia, di bawah ini hanya beberapa di antaranya yang nyata terlihat :

BBM (Bahan Bakar Minyak)

Pajak Parkir

Illegal Logging

Illegal Fishing

  • Kasus illegal fishing (penangkapan ikan tidak legal) di Indonesia menyebabkan kerugian lebih dari US$ 3 milyar/tahun…, disamping mengancam populasi ikan yang ada di lautan Indonesia.

IOT – Internet of Things

Istilah Internet of Things muncul hampir 20 tahun yang lalu untuk menjelaskan bahwa setiap benda (bisa berupa perangkat atau sensor yang cerdas dan saling terhubung) bisa saling mengumpulkan dan berbagi data. Data yang berasal dari perangkat atau sensor tadi tidak terbatas, dan jika disambungkan dan dianalisa dengan data jenis yang lain, maka kita bisa mendapatkan suatu wawasan/pemahaman/pengetahuan yang sebelumnya tidak terbayangkan. Saling keterhubungan antara benda-benda tersebut dan data yang dihasilkannya adalah intisari dari Internet of Things (IOT).

Sekarang ini IOT semakin menjamur, karena didorong oleh berbagi hal seperti : turunnya komponen pendukung IOT (microchips, layanan awan, alat GPS, dsb), kebutuhan yang meningkat (karena orang semakin memahami manfaat IOT), keanekaragaman perangkat yang semakin luas, solusi komunikasi M2M (mesin ke mesin) yang semakin mudah, kemajuan di dunia piranti lunak, dan potensi IOT untuk menciptakan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Beberapa Contoh Penerapan IOT

Hampir semua perangkat bisa dibuat lebih smart supaya mendukung Internet of Things. Perangkat smart, seperti smartphone, tablet, PC dsb, sudah langsung bisa digunakan sebagai perangkat client. Namun untuk perangkat yang tidak smart (misalnya mobil pribadi, truk, saklar lampu, pipa minyak dsb), bisa ditambahkan papan Arduino atau Netduino ke perangkat/benda tersebut, sepanjang ada sensor elektronik yang bisa dipasangkan (misalnya sensor kecepatan/posisi/level BBM, dsb).

  • IOT bisa untuk membuat vending machine yang cerdas. Vending machine cerdas akan mengumpulkan data penjualan dan berinteraksi dengan pelanggan melalui layanan multimedia dan media sosial yang ditampilkan melalui layar sentuh. Vending machine cerdas bisa melaporkan persediaan barang di dalam mesin ke penyalur.
  • IOT bisa dimanfaatkan untuk mempermudah dokter dan perawat di rumah sakit untuk login menggunakan kartu identitasnya ke thin client untuk akses yang lebih cepat ke aplikasi kedokteran.
  • IOT juga bisa dimanfaatkan di pabrik untuk otomasi robot.
  • IOT bisa untuk otomasi rumah cerdas
  • IOT bisa dipergunakan untuk membuat lampu lalu lintas yang cerdas menggunakan teknologi cloud
  • IOT bisa digunakan untuk mengumpulkan foto-foto udara dan berbagai data lain menggunakan drone
  • IOT bisa menggunakan RFID untuk memonitor semua kendaraan bermotor (misalnya untuk mengurangi jumlah kendaraan bermotor di jam sibuk menggunakan ERP di kota-kota besar)
  • IOT bahkan bisa dipergunakan untuk memonitor penggunaan BBM bersubsidi menggunakan RFID yang terpasang di kendaraan
  • IOT dengan sensor GPS bisa dipergunakan untuk melacak keberadaan dan laju kecepatan suatu kendaraan. Bisa diterapkan untuk mendeteksi perilaku supir selama menggunakan kendaraan

IOT membantu mengurangi kebocoran

Di bawah ini adalah konsep bagaimana IOT bisa digunakan untuk membantu pemerintah mengurangi berbagai kebocoran negara.

 

image

Semua objek yang akan dimonitor harus bisa terhubung ke Service Bus yang terdapat di Internet (ini merupakan suatu layanan awan). Layanan awan memungkinkan koneksi ke seluruh client yang jumlahnya tidak terbatas.

  • Tanda garis terputus-putus menandakan koneksi melalui wireless (bisa RFID aktif/pasif, WIFI, GPRS, 3G, 4G, VSAT, TVWS, atau apapun) ke service bus di cloud atau ke access point yang berada di dekatnya
    • kapal tanker, truk BBM, truk angkutan, drone militer terhubung ke service bus melalui wireless, sehingga keberadaannya selalu termonitor
    • truk pengangkut BBM dan Kendaraan Pribadi bisa terhubung ke Service Bus di cloud, atau ke Gerbang Tol. Sehingga jika kendaraan ini melalui gerbang tol, maka keberadaannya segera terdeteksi, dan pembayaran tol bisa dilakukan secara otomatis
  • Tanda garis tidak terputus artinya koneksi dilakukan menggunakan kabel/fiber optik

Setiap objek akan ditanam sensor-sensor yang relevan, misalnya sensor GPS, level bahan bakar, identitas kendaraan, kamera, dan sebagainya. Sensor-sensor itu akan memberikan laporan secara real time atau hanya pada saat tertentu saja.

  • Kendaraan pribadi yang hanya memiliki RFID aktif hanya akan terhubung jika kendaraan ini melintasi gerbang tol, atau mengisi BBM (diperlukan untuk mendapatkan jatah BBM bersubsidi misalnya), atau memasuki pelataran parkir. Jika kendaraan pribadi ini terhubung secara konstan ke service bus, maka orang yg berhak (pemilik atau pemerintah) akan dapat melihat posisi kendaraan ini di peta
  • Kapal tanker diharuskan selalu terhubung ke service bus, sehingga identitas dan keberadaannya selalu diketahui. Jika ada kapal tanker yang terdeteksi radar, namun tidak teridentifikasi melalui IOT, berarti kapal tanker ini adalah kapal yang tidak dikenal, dan polisi atau bea cukai bisa langsung datang menghampiri. Perilaku-perilaku yang menyimpang dari kapal-kapal yang teridentifikasi akan segera terdeteksi, dan polisi juga bisa langsung menghampiri, atau kirim saja drone untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan kapal tersebut. Dengan IOT maka volume isi tanker juga selalu termonitor, sehingga jika ada perpindahan muatan di tempat yang tidak semestinya, maka hal ini juga akan langsung diketahui

Pemasangan sensor-sensor di gedung parkir juga akan mencegah kebocoran pajak parkir, karena pemerintah bisa memonitor secara real time seberapa banyak mobil yang parkir dan berapa lama dalam satu hari.

Pemasangan sensor di gerbang tol akan meniadakan antrian di pintu tol, karena kendaraan yang dilengkapi dengan RFID aktif akan bisa maju dengan kecepatan 100 km/jam dan tetap terdeteksi dan jika ada kartu tol langganan, maka kartu tol tersebut akan otomatis terpotong kreditnya.

Truk-truk angkutan kayu juga bisa selalu termonitor, sehingga kita bisa tahu pasti dari mana asal kayu-kayu tersebut, dan mau dikirim kemana.

Laporan Masyarakat

Seringkali teknologi tidak bisa bekerja secara sempurna, sehingga masih diperlukan masukan-masukan atau laporan-laporan dari masyarakat. Misalnya kebocoran pipa yang tidak terdeteksi atau sulit terdeteksi, namun menyebabkan polusi di suatu tempat, maka masyarakat bisa melaporkannya melalui fasilitas CRM yang terintegrasi dengan unified communication. Laporan bisa dalam bentuk SMS, telpon, fax, atau bahkan melalui media sosial dengan hash tag tertentu, misalnya #lapor.

Stakeholders / Pemangku Kepentingan

Berbagai pihak bisa menggunakan sistem ini, dan mereka dibedakan level aksesnya dengan menggunakan password, atau tanpa password jika masuk sebagai tamu (guest).

  1. Masyarakat : Masyarakat di sini akan memiliki akses publik, dan akan melihat sampai di mana kebocoran-kebocoran yang ada bisa ditangani. Dan seberapa besar penghematan yang sudah dilakukan.
  2. Pemerintah : Pemerintah memiliki akses tertentu, dan bisa melihat kejadian-kejadian real-time, anomali, dan semua informasi yang publik. Pemerintah berkepentingan untuk melihat apakah kebijakan-kebijakan terkait dengan kebocoran sudah efektif atau belum.
  3. LSM : LSM bisa membantu pemerintah untuk melakukan sosialisasi sehubungan dengan sistem ini
  4. Bisnis : Bisnis juga akan diuntungkan dengan mendapatkan informasi-informasi yang terkait dengan bisnisnya. Pebisnis juga bisa melakukan otomasi proses, dan juga meningkatkan efisiensi supply chain management dsb
  5. Akademis : Pihak Akademis akan bisa menganalisa, melakukan penelitian, dsb untuk meningkatkan efektivitas sistem ini, dan mengusulkannya ke pemerintah

Friday, April 20, 2012

Technology Megatrend 2012

image

Ada empat megatrend di dunia teknologi TIK sekarang : Mobile, Social, Big Data, dan Cloud.

  • Mobile – adopsi perangkat mobile yang luar biasa pesat menyebabkan cara orang bekerja, belajar, dan bermain berubah. Trend ini terlihat di mana-mana (apalagi di Indonesia) kita melihat orang berjalan kaki tapi matanya tertuju ke perangkat genggamnya, atau sekumpulan orang duduk di meja yang sama (misalnya di restoran), tapi semuanya sibuk dengan perangkat genggamnya.
  • Social – Aplikasi-aplikasi sosial juga menjadi sangat populer, misalnya Facebook atau Twitter, yang sangat populer di semua kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Aplikasi-aplikasi sosial ini sangat memudahkan orang untuk saling terhubung.
  • Big Data – Kedua hal di atas (mobile dan sosial) mengakibatkan ledakan data yang luar biasa. Dengan pertumbuhan yang eksponensial, kita membutuhkan suatu teknologi analisa data yang baru untuk menganalisa data yang ukurannya sangat luar biasa besar itu, misalnya untuk menemukan peluang bisnis baru, mencegah penyebaran wabah penyakit, atau memerangi kejahatan.
  • Cloud – Trend Awan ini semakin memperkuat ketiga megatrend tadi di atas. Teknologi awan memberikan kemampuan komputasi dan konektivitas yang merata di manapun. Bagi para pengambil keputusan, teknologi awan membuat TIK menjadi landasan yang strategis untuk bisnis.

Tuesday, December 6, 2011

Komputasi Awan dan Segala Aspeknya

Apakah anda memiliki akun Facebook, Yahoo Messenger, Hotmail atau layanan-layanan gratis lain dari Internet ? Jika ya, maka anda sebenarnya sudah menggunakan layanan awan (cloud services/cloud computing services) secara tidak disadari.

Menurut NIST (National Institute of Standards and Technology) sendiri komputasi awan harus memenuhi 5 kriteria di bawah ini :

  1. On-demand self-service – setiap orang bisa mendaftarkan dirinya sendiri tanpa bantuan siapapun, dan menikmati layanan sesuai kebutuhan
  2. Broad network access – layanan komputasi awan bisa diakses dari manapun, dengan perangkat apapun
  3. Resource pooling – semua sumber komputasi dikumpulkan dan dipergunakan bersama-sama
  4. Rapid elasticity – setiap kebutuhan bisa dilayani secara elastik tergantung kebutuhan saat itu
  5. Measured service – semua layanan bisa diukur (dan ditagih biayanya) sesuai dengan penggunaan aktual

Keunggulan komputasi awan ini adalah efisiensi yang sangat tinggi, apalagi jika menggunakan banyak data center tersebar yang berukuran sangat besar (bisa sampai ratusan ribu server per data center).

Namun demikian, sampai saat ini banyak orang masih meragukan keamanannya.

Benarkah komputasi awan ini aman ?

Nah, sekarang saya kembali bertanya : Apakah perusahaan anda memiliki data center dan menggunakan virtualisasi untuk meningkatkan efisiensi server yang ada diperusahaan ? Jika ya, berarti perusahaan sudah meletakkan dasar untuk komputasi awan.

Jika kita tambahkan aplikasi-aplikasi yang memungkinkan ke 5 sifat dari NIST tadi terpenuhi, maka perusahaan ini bisa disebut sebagai penyedia layanan awan. Kalau perusahaan hanya menggunakannya untuk lingkungan sendiri, maka kita bisa menyebutnya sebagai penyedia layanan awan privat, namun jika perusahaan ini menjual layanan awan untuk publik maka kita bisa menyebutnya sebagai penyedia layanan awan publik.

Aplikasi Komputasi Awan

Layanan awan ini sendiri merupakan trend yang tidak bisa dihindari. Trend ini sangat kuat melanda industri IT ibarat gelombang tsunami. Kita hanya punya dua pilihan, berselancar memanfaatkan energi gelombang, atau malah tenggelam ditelannya.

Patut diingat bahwa komputasi awan bukanlah solusi untuk seluruh masalah IT. Beberapa hal yang patut dipertimbangkan :

  Cocok untuk komputasi awan sekarang Pertimbangkan dahulu sebelum menggunakan komputasi awan Tunda dahulu implementasi komputasi awan
Pertimbangan Bisnis
  • Resiko rendah
  • Tidak terkena dampak aturan
  • Konten dampak rendah
  • Resiko medium
  • Sedikit terkena dampak aturan
  • Konten berdampak menengah
  • Resiko tinggi
  • Terkena dampak aturan
  • Konten berdampak tinggi
Pertimbangan Teknis
  • Tidak antar premis
  • Tidak perlu selalu diawasi
  • Integrasi aplikasi in-house
  • Penyimpanan basis data kecil
  • Antar premis
  • Perlu diawasi sedikit
  • Integrasi aplikasi in-house
  • Penyimpanan basis data menengah
  • Antar premis
  • Harus selalu diawasi
  • Integrasi aplikasi paket
  • Penyimpanan basis data besar

Dari tabel di atas terlihat bahwa aplikasi yang paling cocok untuk layanan awan adalah aplikasi yang beresiko rendah, tidak terkena dampak aturan, konten tidak sensitif, berada di satu premis, bisa jalan sendiri tanpa pengawasan, bisa dilakukan pengembangan secara in house, dan memerlukan data yang kecil saja.

Beberapa aplikasi yang cocok dengan kriteria tersebut misalnya adalah :

  • Aplikasi kolaborasi (melalui suatu portal)
  • Aplikasi email
  • Aplikasi komunikasi/chat online
  • Aplikasi CRM (Customer Relationship Management)
  • Aplikasi meeting virtual/online
  • Aplikasi manajemen desktop

Untuk saat sekarang, untuk mendapatkan yang terbaik dari solusi awan dan premis sendiri, maka kita bisa pilih mana aplikasi yang berjalan di awan, mana aplikasi yang berjalan dari data center milik sendiri.

Aspek Keamanan dan Privasi

Aspek-aspek inilah yang paling banyak ditanyakan oleh para peminat layanan awan. Di bawah ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

  1. Manajemen Resiko dan Ketaatan – organisasi yang mulai mengadopsi awan tetap harus bertanggung jawab untuk aspek manajemen keamanan, resiko, dan ketaatan terhadap aturan yang berlaku di industri terkait. Manajemen resiko dan ketaatan ini membutuhkan tim internal yang kuat dan transparansi proses dari penyedia jasa awan.
    Rekomendasi : penyedia jasa awan harus menggunakan beberapa framework atau best practice seperti MOF, atau ITIL, dan memiliki sertifikasi seperti ISO/IEC 27001:2005, dan mempublikasikan laporan audit ke SAS 70 type II. Selain itu juga, disesuaikan dengan ketentuan suatu negara, mungkin juga harus taat terhadap PCI atau FISMA
  2. Manajemen Akses dan Identitas – Identitas bisa didapat melalui beberapa penyedia jasa awan, dan harus bersifat interoperabel antar organisasi yang berbeda, penyedia awan yang berbeda, dan berlandaskan proses yang kuat.
    Rekomendasi : Autentikasi yang disarankan adalah menggunakan beberapa faktor sekaligus, seperti biometric, one time password token (seperti token BCA), kartu ID dengan chip, dan password
  3. Integritas Layanan – Layanan berbasis awan harus dibangun dengan landasan keamanan yang kuat, dan proses-proses operasionalnya juga harus diintegrasikan dengan manajemen keamanan di organisasi tersebut. Penyedia layanan awan harus mengikuti proses yang bisa dibuktikan, terdefinisi, dan jelas dalam mengintegrasikan keamanan dan privasi ke dalam layanannya mulai dari titik paling awal, di setiap titik di dalam siklus, sampai paling penghabisan. Selain itu manajemen keamanan dan auditing harus selaras antara penyedia awan dan pelanggan.
    Rekomendasi : Gunakan sertifikasi semacam EAL4+ (untuk evaluasi keamanan), SDL (untuk pengembangan aplikasi), ISO/IEC 18044 (untuk incident response)
  4. Integritas Klien – Layanan awan yang digunakan di sisi klien harus memperhatikan aspek keamanan, ketaatan, dan integritas di sisi klien. Integritas klien bisa ditingkatkan dengan menggunakan paduan praktek terbaik.
    Rekomendasi : Perkuat sistem desktop, pastikan kesehatan sistem desktop, terapkan IT policy yang tepat, federasi identitas, Network Access Protection dan sebagainya.
  5. Proteksi Informasi – Layanan awan membutuhkan proses yang andal untuk melindungi informasi sebelum, selama, dan setelah transaksi. Manfaatkan Klasifikasi Data untuk meningkatkan kontrol terhadap data yang siap dilepas ke awan.
    Rekomendasi : Gunakan teknologi enkripsi dan manajemen hak informasi (IRM) sebelum data dilepas ke awan.

Nah jika anda tertarik untuk menggunakan layanan awan, di bawah ini ada beberapa langkah mudah :

  1. Identifikasi kebutuhan bisnis dan carilah solusi awannya. Jangan paksakan untuk menggunakan seluruh aplikasi berjalan di awan, pilihlah sesuai kebutuhan
  2. Mulai dari yang sederhana, misalnya gunakan layanan Email berbasis awan, lakukan kustomisasi sehingga layanan Email ini terintegrasi dengan baik dengan aplikasi-aplikasi lain di tempat anda bekerja
  3. Buat Portal perusahaan berbasis awan (ini bagian dari aplikasi kolaborasi). Portal ini diintegrasikan dengan layanan-layanan lain dari perusahaan anda
  4. Tingkatkan pengetahuan karyawan tentang keamanan, privasi, dan penggunaan layanan awan
  5. Jangan lupa faktor interoperabilitas, pastikan sistem operasi dan aplikasi klien juga mendukung penuh aplikasi awan (misalnya format yang identik dan sebagainya)

Tuesday, October 4, 2011

Certification and Attestations related to Cloud Computing

 

  • ISO/IEC 27001:2005
    • Internationally recognized specification of standards for an ISMS that includes processes for examining, controlling, and managing threats to information security.
  • SAS (Statement on Auditing Standards) 70 Type I and II
    • Standards used by auditors to evaluate and report on the controls (Type I) and the effectiveness of
      control activity over a period of time (Type II) for a service organization, including data hosting
      companies.
  • SOX (Sarbanes-Oxley)
    • U.S. securities law that dictates specific requirements for financial reporting by public companies. The titles cover areas such as corporate responsibility, auditor independence, analyst conflicts of interest, and other subjects related to financial disclosures. 
  • PCI DSS (Payment Card Industry Data Security Standard)
    • Security controls for credit card transactions.
  • FISMA (Federal Information Security Management Act)
    • U.S. Federal law that mandates security standards for information technology systems in the federal
      government.

Cloud Computing as the Foundation of 21th Century

Di awal abad ke 21 ini kita memasuki era Ilmu Pengetahuan. Di era ini, terjadi perubahan yang besar dari sisi sosial, ekonomi, politik, terutama disebabkan oleh meningkatnya akses terhadap ilmu pengetahuan melalui teknologi-teknologi terkini (internet, social media dsb).

Berbeda dengan era sebelumnya (era Industri), maka ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi sesuatu yang statik dan dipelajari di sekolah saja, melainkan menjadi sesuau yang dinamis, dipelajari di mana saja. Perubahan paling besar terutama pada inovasi ilmu pengetahuan menjadi bentuk lain yang berbeda. Keahlian berinovasi seperti ini menjadi sangat penting dan kemampuan kita untuk mencari, menilai, dan mengolah ilmu pengetahuan dengan cepat dan tepat menjadi suatu kebutuhan di masa ini.

Cloud computing merupakan hasil evolusi perlahan di dunia IT, dan cloud computing menjadi landasan yang sangat ideal di abad 21 ini karena cloud memberikan kemampuan luar biasa bagi siapapun untuk mencari, menilai, dan mengolah ilmu pengetahuan dengan sangat cepat.

Definisi Cloud Computing

Menurut NIST (National Institute of Standards and Technology), cloud computing harus memenuhi 5 kriteria di bawah ini :

  1. On-Demand Self-Service – siapapun bisa mengaktifkan suatu layanan tanpa minta bantuan orang lain, semua prosedur pendaftaran bisa dilakukan sendiri melalui akses ke suatu portal. Di sini diperlukan layanan pendaftaran melalui portal yang sangat mudah, sehingga orang awam bisa melakukan proses pendaftaran sendiri tanpa bantuan orang lain. Jika proses pendaftaran layanan masih dilakukan oleh operator (melalui pengisian form dsb), maka kita belum bisa memenuhi kriteria pertama ini
  2. Broad network access – layanan bisa diakses dari manapun (misalnya melalui PC/smartphone/tablet/dsb, melalui jaringan 3G atau wifi, atau warnet). Di sini diperlukan adanya sambungan fasilitas cloud computing ke jaringan Internet. Tanpa adanya akses jaringan, maka layanan cloud computing tidak bisa dinikmati
  3. Resource pooling – semua daya komputer/penyimpanan/jaringan digunakan bersama-sama supaya lebih efisien. Di sini diperlukan kemampuan sistem operasi cloud yang mampu mendayagunakan semua sumber yang ada, dan melakukan pembagian beban yang terbaik demi memenuhi SLA (service level agreement) dan mencapai skala ekonomis. Seringkali resource pooling ini juga harus memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersebar di banyak lokasi yang terpisah jauh
  4. Rapid elasticity – semua layanan bisa diciptakan secara instan, kapasitas diperbesar atau diperkecil berdasarkan kebutuhan. Jika layanan hanya bisa diperbesar melalui penambahan perangkat keras, maka kriteria ini belum bisa dipenuhi. Di sini diperlukan kemampuan sistem operasi cloud yang canggih sehingga sistem operasinya memang bisa memindah-mindahkan beban komputasi dari satu perangkat keras ke perangkat keras lain sehingga dicapai kemapuan komputasi yang elastik
  5. Measured service – semua layanan bisa diukur penggunaannya, dan dapat dipergunakan untuk keperluan penagihan biaya atau keperluan lain. Di sini dibutuhkan kemampuan pengukuran layanan yang canggih yang mampu mengukur sampai penggunaan CPU, atau memory, atau berbagai proses di dalam cloud computing ini

Keuntungan Cloud Computing

Cloud Computing di era Ilmu Pengetahuan mengubah cara kita melakukan hal-hal berikut secara online :

  • Berkomunikasi dengan mudah melalui email online
  • Hidup lebih terjadwal melalui kalender online
  • Memiliki data nama/telpon/alamat dsb melalui kontak online
  • Berkomunikasi dengan memanfaatkan berbagai saluran melalui messenger online
  • Memiliki fasilitas penyimpanan yang bisa diatur akses dan keamanannya melalui fasilitas storage online
  • Memiliki aplikasi produktivitas melalui aplikasi pengolah dokumen online
  • Menyimpan dan saling berbagi foto online
  • Membuat grup atau forum diskusi online
  • Mendapatkan banyak informasi bermanfaat secara online
  • Mensinkronisasikan isi komputer kita secara online
  • Melindungi anggota keluarga (terutama anak-anak) terhadap kejahatan internet secara online
  • Mengintegrasikan semua perangkat genggam, laptop, tablet, desktop secara online
  • Mencari posisi menggunakan aplikasi map online

Beberapa issue seputar cloud computing

Di bawah ini adalah beberapa issue terpenting seputar cloud computing (terutama di Indonesia) :

  1. Akses – Jeleknya akses internet yang cepat menjadi satu faktor penghambat adopsi cloud computing di Indonesia. Salah satu cara mengatasi kendala akses adalah dengan mengkombinasikan layanan cloud dengan aplikasi yang terpasang langsung (di perangkat atau di server lokal). Sehingga layanan cloud bisa dimanfaatkan ketika akses tersedia, namun pada saat akses terputus, maka kita tetap bisa mengakses layanan lokal (yang sudah tersimpan di hard disk kita sendiri). Pada saat akses hidup lagi, maka data lokal akan disinkronisasikan dengan data di cloud
  2. Keamanan – Jeleknya pengetahuan orang tentang keamanan di Internet menghantui adopsi cloud computing. Selain itu juga orang merasa lebih aman menyimpan data di komputer sendiri daripada di cloud. Padahal kenyataannya data di cloud bisa jadi jauh lebih aman daripada data tersimpan di komputer sendiri. ISO 27002 merupakan standar praktik terbaik pada keamanan informasi yang bisa juga digunakan untuk menilai tingkat keamanan di suatu penyedia jasa layanan cloud computing
  3. Privasi – Era social media mengubah kebiasaan orang dalam menangani privasi. Privasi menjadi sangat penting di cloud computing, karena tingkat privasi yang diinginkan setiap orang berbeda-beda. Dengan kemampuan privasi data, maka setiap orang bisa menentukan siapa yang berhak mengakses atau mengubah suatu informasi berdasarkan identifikasi digital.
  4. Keberadaan Data – Beberapa institusi (terutama perbankan, finansial, energi, kependudukan, dsb) mensyaratkan data harus berada di dalam batas wilayah Indonesia. Jika hal ini menjadi syarat mutlak, maka kita perlu pastikan keberadaan data center penyedia cloud ada di Indonesia. Alternatif lain yang menarik adalah bagi institusi tersebut untuk memiliki layanan private cloud computing sendiri. Private Cloud sebenarnya adalah data center milik sendiri yang ditingkatkan kemampuannya sehingga bisa memiliki 5 sifat cloud computing (dari definisi NIST) dan bisa digunakan untuk melayani group/anak perusahaan sendiri.

Saturday, April 23, 2011

Sama-sama Gratis tapi tidak sama : Microsoft Word Web Apps vs Google Docs

Di bawah ini adalah file original tampak dari Microsoft Word 2010 :

image

Jika anda ingin share dokumen ini ke teman-teman lain dengan gratis, ada beberapa cara :

  1. Gunakan windows live skydrive di http://live.com 
  2. Gunakan google docs di http://docs.google.com 

Keduanya merupakan layanan cloud yang gratis. Seharusnya dokumen yang dishare tidak akan berubah bentuk. Ternyata sharing melalui live.com atau google docs hasilnya tidak sama, dan anda bisa bandingkan sendiri di bawah ini (silahkan click langsung di gambar untuk perbandingan langsung) :

Windows Live Skydrive (word web app) Google Doc

Kesimpulan :

  • Windows Live skydrive tidak mengubah bentuk dokumen. Dokumen tetap terlihat seperti aslinya
  • Google Doc mengubah komposisi dokumen, style header, watermark hilang, desain smart art hilang, gambar grafis hilang, dan catatan kaki juga hilang

Nah keduanya merupakan layanan gratis, anda mau pilih yang mana ?

Sumber : http://sharepoint.microsoft.com/businessproductivity/en-us/Why-Microsoft/compare-demo/Pages/google-documents-vs-word-web-app.aspx

Wednesday, February 16, 2011

Cloud Computing–Taksonomi dan Migrasi

Cloud computing (kadang-kadang diindonesiakan menjadi Komputasi Awan) merupakan layanan dari satu atau beberapa sumber yang terkumpul dan dipakai bersama-sama, dan bisa diakses melalui berbagai perangkat/gadget melalui jaringan Internet. Kumpulan dan pemakaian bersama ini sangat umum pada Data Center yang modern sekarang ini. Keuntungannya bekerja sama seperti ini adalah kekebalan yang tinggi terhadap lonjakan beban dan gangguan perangkat keras, dan semuanya dengan dukungan sumber daya manusia yang sangat minimal.

Hal ini membawa berbagai keuntungan misalnya meningkatnya efisiensi, menurunnya biaya, dan membuka banyak peluang akan berbagai layanan baru yang tadinya tidak mungkin terwujud tanpa adanya cloud computing. Misalnya, apakah anda menggunakan layanan email gratis ? Facebook ? instant messenger ? folder untuk berbagi ? semua itu adalah bagian dari layanan online yang sangat mudah diwujudkan dengan cloud computing…

Salah satu keuntungan cloud computing yang paling nyata adalah semua layanan (berupa update personal, foto, musik, hiburan, dsb) bisa diakses di manapun, kapanpun, menggunakan perangkat apapun.

Aplikasi lain dari cloud computing adalah memecahkan suatu persoalan besar menggunakan sumber komputing yang luar biasa besar dalam waktu yang singkat. Misalnya simulasi untuk menemukan pengobatan terhadap AIDS, dan sebagainya.

Berbagai analis bisnis seperti Gartner & Forrester memperkirakan bahwa sebagian besar kalangan bisnis akan menggunakan suatu bentuk layanan cloud sampai beberapa tahun ke depan, aset-aset IT juga akan dikurangi dengan cara berpindah ke cloud.

Di dalam bisnis, faktor ekonomi selalu memegang peranan yang sangat penting. Apalagi dengan adanya resesi di beberapa tahun belakangan ini, faktor ekonomi menjadi lebih dominan dalam mempertimbangkan pemilihan teknologi, dan hal ini banyak mendorong banyak perusahaan untuk mempertimbangkan cloud, karena cloud menjanjikan biaya yang lebih rendah, perubahan CAPEX (Capital Expenditure) menjadi OPEX (Operational Expenditure), dan pembiayaan yang sesuai penggunaan sumber komputing. Secara historis, ekonomi cenderung menjadi indikator yang utama untuk menentukan kesuksesan suatu teknologi, dan cloud terdorong faktor ini dan membuat demokratisasi teknologi, di mana teknologi bisa dinikmati semua orang. Kalau tadinya teknologi/layanan canggih hanya milik perusahaan besar , maka sekarang sebuah perusahaan pemulapun bisa berkompetisi dengan biaya minimal di depan.

 

Taksonomi Layanan Cloud

image

Satu cara yang mudah untuk memahami cloud computing ini dengan cara membandingkannya dengan lapisan teknologi on-premise. Di On-Premise, pelanggan mengelola seluruh lapisan, sementara di Cloud Computing, pelanggan hanya mengelola beberapa lapisan tertentu tergantung pada jenis layanan Cloud-nya :

  1. IAAS (Infrastructure as a Service) – pelanggan mengelola lapisan Operating System sampai Aplikasi, sementara lapisan IT (server/networking hardware) ditangani oleh penyedia layanan IAAS seperti Microsoft (melalui mitra-mitra) dan Amazon EC2.
  2. PAAS (Platform as a Service) – pelanggan mengelola Data dan Aplikasi, dan lapisan IT ditangani oleh penyedia layanan seperti Microsoft Azure dan Google App Engine.
  3. SAAS (Software as a Service) – pelanggan tinggal pakai layanannya saja. Di sini seluruh lapisan IT ditangani oleh penyedia layanan seperti Microsoft, Google, Salesforce.com dan berbagai perusahaan penyedia layanan SAAS lainnya…

Cloud computing membagi tugas pelanggan dan penyedia jasa secara jelas. Dan hal ini sangat menarik, karena pelanggan tidak perlu repot menangani semua lapisan IT yang dianggap sebagai beban, dan bisa lebih fokus menangani hal yang menjadi bidang keahliannya. Misalnya perusahaan sepatu, sudah sepantasnya sibuk merancang & membuat sepatu yang terbaik, dan membiarkan manajemen email servernya ke pihak yang lebih ahli (yaitu penyedia layanan email berbasis cloud misalnya).

Berpindah ke Cloud Computing

Anda berminat untuk pindah ke cloud ? Jangan terburu-buru, di bawah ini ada beberapa pertimbangan dari sisi bisnis dan teknis :

Pertimbangan Pindah ke Cloud Sekarang ! Pertimbangkan Dulu ! Oops…, Tunggu Dulu !
Bisnis
  • Tidak kritis/penting
  • Tidak diatur dalam peraturan/undang-undang
  • Konten berdampak rendah
  • Tidak kritis/penting
  • Nyerempet peraturan/UU yang ada
  • Konten berdampak menengah
  • Kritis/penting
  • Terkena peraturan/UU
  • Konten berdampak tinggi
Teknis
  • Semuanya ada di satu tempat
  • Tidak perlu selalu dimonitor
  • Integrasi aplikasi dilakukan sendiri
  • Database berukuran kecil
  • Lintas tempat
  • Tidak perlu selalu dimonitor
  • Integrasi aplikasi dilakukan sendiri
  • Database berukuran sedang
  • Lintas tempat
  • Perlu selalu dimonitor
  • Integrasi aplikasi dalam satu paket
  • Database berukuran besar

Monday, February 7, 2011

Journey to Cloud Computing–What Should I Do ?

Jika anda tertarik untuk menerapkan cloud computing untuk menyederhanakan proses dan menekan biaya, kita bisa gunakan teknologi Cloud Computing dengan manajemen yang berpusat pada layanan. Dengan manajemen seperti ini, kita bisa mengatur semua layanan secara keseluruhan, membuat infrastruktur manajemen yang tunggal, fully automated, dan sangat elastis dalam mendukung aplikasi-aplikasi.

Cloud computing sebenarnya adalah evolusi lanjutan dalam mengoptimalkan data center, di mana penggunaan data center bisa ditingkatkan dari 15% (ini penggunaan data center tradisional), sampai di atas 95% (yang ini memerlukan solusi skala global).

Ada beberapa langkah yang harus anda lakukan untuk menyiapkan cloud computing sekarang ini (tahun 2011) :

  1. Siapkah semua infrastruktur (perangkat, teknologi, sampai orang-orang) untuk mendukung virtualisasi
  2. Standarisasikan perangkat keras yang akan digunakan ke platform yang mendukung virtualisasi
  3. Optimalkan manajemen untuk mendukung layanan cloud
  4. Lakukan otomasi proses dan fine tuning
  5. Buat landasan yang kuat untuk memberikan layanan private cloud melalui data center
  6. Lakukan perubahan di sisi operasi, aplikasi, dan infrastruktur untuk mendukung layanan public cloud

Bahan presentasi di bawah ini akan menjelaskan secara lebih terperinci, termasuk menunjukkan skenario seperti apa yang dimungkinkan :

TIPS: anda bisa melihat presentasi ini dalam full screen dengan cara click icon di sudut kanan bawah, setelah itu anda punya pilihan untuk membukanya di PowerPoint (berbasis cloud/online atau di komputer anda)…..

Wednesday, February 2, 2011

Cloud Computing : VPS vs IAAS

Saya pernah mendapat pertanyaan tentang perbedaan VPS dan IAAS.

Keduanya memang tampak mirip, tetapi kalau kita merujuk pada definisi, maka kita bisa melihat bahwa VPS sebenarnya merupakan satu teknologi transisi antara dedicated (physical) server hosting lawan teknologi cloud. Dan dengan trend teknologi menuju ke arah cloud computing, maka bisa diramalkan bahwa VPS sebentar lagi akan pudar popularitasnya, dan mungkin akan menghilang ditelan IAAS.

Kriteria IAAS VPS
Layanan Self Service Self Service
Pemakaian resource Semua resource yang ada, seperti server, storage, jaringan, listrik, dipergunakan bersama (sharing) demi mencapai skala ekonomis Ada pilihan mau sharing resource atau menggunakan dedicated resource (misalnya CPU dedicated)
Skalabilitas Jika diperlukan, maka sistem akan mampu memberikan semua resource yang masih ada dalam seketika Resource bisa ditambah namun tidak seketika, karena membutuhkan penambahan resource, konfigurasi ulang, downtime, dsb.
Pembayaran Pengguna hanya membayar sesuai penggunaan Sama dengan IAAS, tapi ada parameter tambahan misalnya jumlah fisik CPU yang digunakan, jumlah IP address, jumlah interface jaringan dsb
Akses Mampu diakses dengan berbagai cara maupun platform, public maupun private Sama dengan IAAS

Presentasi Cloud Computing di Shangri-La Jakarta 20 Januari 2011

Berikut ini saya share presentasi saya mengenai Cloud Computing di Shangri-La Jakarta pada tanggal 20 Januari 2011 :

Presentasi ini menjelaskan tentang apakah cloud computing itu, perbedaan dengan data center, mengapa cloud computing itu penting, apa manfaatnya untuk kita, dan bagaimana strategi implementasi cloud computing untuk perusahaan kita.

Thursday, June 24, 2010

Cloud Services – Mendapatkan Drive Tambahan Gratis di SkyDrive melalui Office 2010 !

Buka Word 2010 :

File, Save & Send, Save to Web :

image

Masukkan Live ID anda. Kalau belum punya silahkan daftar baru dengan click “get a .net passport”.

Setelah itu pilih saja folder yang tersedia di SkyDrive :

image

Pilih salah satu folder, kemudian click “Save As”, dan click bagian folder di atas seperti ini :

image

Buka Windows Explorer dan Map Network Drive :

image

Kemudian PASTE di dalam isian Folder :

image

Setelah itu sebuah window (Z:) akan terbuka, dan anda mulai sekarang sudah memiliki drive “Z:” !!

Friday, April 23, 2010

Enterprise Class Cloud Services

Artikel di bawah ini merupakan terjemahan bebas dari : http://blogs.technet.com/whymicrosoft/archive/2010/04/22/the-importance-of-sla-s.aspx 

Bagi banyak perusahaan, menggunakan layanan awan membutuhkan pemikiran matang. Semua perusahaan, besar dan kecil, perlu mempelajari SLA (Service Level Agreement) yang diberikan oleh penyedia jasa layanan awan.

Pelanggan komersial bisa dipastikan membutuhkan jaminan SLA tertentu.

Google Docs, salah satu layanan awan dari Google mengalami downtime kemarin tanggal 22 April dengan kronologi (terbaru pada saat blog ini ditulis) seperti berikut :

6:36 AM – layanan Google Docs tidak bisa diakses oleh sebagian besar pengguna.

7:36 AM – tim teknis Google memeriksa akar masalah, dan mengetahui bahwa pengguna tidak bisa menggunakan Spreadsheets, Presentations, Drawings, dan Documents yang dibuat menggunakan versi baru.

8:00 AM – sebagian besar masalah sudah selesai, kecuali Google Presentations.

Matinya layanan Google ini merupakan suatu contoh perbedaan layanan awan Enterprise Class dengan layanan untuk perorangan.

Suatu penyedia layanan, bisa saja membuat layanan awan yang luar biasa yang tidak pernah mati dengan cara membuatnya berjalan di atas suatu infrastruktur dengan keamanan yang berlapis-lapis. Tetapi hal ini mungkin tidak menguntungkan secara bisnis. Sehingga biasanya penyedia layanan akan membuat suatu desain yang cukup baik jika dihitung berdasarkan pertimbangan ekonomis.

Matinya layanan Google ini bukan hanya yang pertama kali, tahun lalu ketika Google melakukan sedikit perubahan di Data Centernya sebagian besar pengguna layanan email Gmail mati.

Hal lain yang sangat serius adalah Google sebenarnya sama sekali tidak memberikan dukungan apapun terhadap aplikasi-aplikasi awan Google Labs, Google juga tidak memberikan janji atau jaminan apapun….

Hal-hal inilah yang patut dipertimbangkan oleh para calon pengguna layanan awan untuk keperluan bisnis.

Pernah membaca Google Apps SLA ? Kalau diperhatikan benar-benar, maka Google App bisa mati lebih dari 21 jam setiap hari, dan Google tetap bisa claim bahwa Google memiliki 100% uptime :

“Downtime Period” means, for a domain, a period of ten consecutive minutes of Downtime. Intermittent Downtime for a period of less than ten minutes will not be counted towards any Downtime Periods.

“Monthly Uptime Percentage” means total number of minutes in a calendar month minus the number of minutes of Downtime suffered from all Downtime Periods in a calendar month, divided by the total number of minutes in a calendar month.

Pendekatan SLA model seperti ini bisa menipu pelanggan. Sebuah penyedia layanan awan kelas Enterprise seharusnya menghitung downtime setiap kali suatu aplikasi memang tidak bisa dihitung. Inilah yang disebut KEMITRAAN !

Hal lain yang juga penting adalah penalti. Suatu penyelenggara layanan yang melanggar SLA sudah seharusnya dihukum secara finansial (misalnya berupa diskon atau uang kembali). Layanan Google hanya memberikan maksimum layanan gratis 15 hari di akhir kontrak jika uptime merosot <95% setiap hari !

Di bawah ini adalah perbandingan antara layanan awan dari Microsoft dan Google :

 

Microsoft Online

Google Apps

Downtime Limitations

Immediate upon outage

Less than 10 minutes do not count

Monthly Uptime Percentage

Service Credit ($)

Monthly Uptime Percentage

Service Credit (days of service)

< 99.9%

25%

< 99.9% - ≥ 99.0%

3

< 99%

50%

< 99.0% - ≥ 95.0%

7

< 95%

100%

< 95.0%

15

Planned Downtime Notification

5 days

5 days

Maximum Yearly Planned Downtime

10 Hours

12 Hours

Friday, March 26, 2010

Open Source vs Cloud Computing

Richard Stallman: Menggunakan layanan Cloud adalah tindakan bodoh
image

http://blogoscoped.com/archive/2008-09-30-n12.html 

Richard Stallman bapak Open Source mengatakan “Ada alasan mengapa anda tidak boleh menggunakan aplikasi berbasis web karena anda akan kehilangan kontrol…. Hal tersebut sama jeleknya dengan menggunakan aplikasi proprietary. Kerjakan komputing di komputer anda sendiri dengan program yang bebas. Jika anda menggunakan program proprietary atau web server orang lain, maka anda akan tidak punya pertahanan sama sekali. Nasib anda akan berada dalam tangan si pengembang software tersebut.”

Richard mengatakan bahwa menggunakan aplikasi berbasis web seperti Gmail adalah suatu tindakan yang lebih “buruk dari kebodohan”.

Di blog yang lain http://www.crunchgear.com/2008/09/29/cloud-computing-could-be-dangerous-warns-richard-stallman/ Richard Stallman mengatakan bahwa cloud services seperti Gmail berbahaya karena bisa ditutup sewaktu-waktu.

Di sini http://cloudcomputing.sys-con.com/node/692407 Richard malah bilang bahwa Cloud Computing hanya untuk orang bodoh….

Cloud Computing memakan pengembang Open Source

Amazon adalah salah satu perusahaan terkemuka yang menawarkan layanan database melalui Amazon RDS (Relational Database Service). Amazon RDS merupakan layanan berbasis web yang mudah untuk disetup, dioperasikan, dan berskala tinggi di dalam cloud. Amazon RDS menyembunyikan kesulitan manajemen database dari sisi user, sehingga para user bisa lebih fokus pada bisnisnya.

Menarik untuk disimak, Amazon ini memanfaatkan produk Open Source MySQL yang dikustomisasi menjadi sangat mudah untuk digunakan :)

MySQL adalah produk open source yang kelangsungan hidupnya bergantung pada penjualan jasa dukungan teknis (dari SUN yang menciptakan dulu mengakuisisi MySQL ini). Karena Amazon memiliki teknisi & pengembang sendiri yang andal, maka Amazon tidak membeli jasa dari SUN.

Pendapatan SUN juga akan berkurang dari sisi penjualan jasa, karena semua pelanggan potensial jasa dukungan teknis untuk MySQL bisa memilih untuk menggunakan jasa Amazon…

Hal-hal semacam ini sangat membahayakan kelangsungan hidup pengembang aplikasi open source.

Bagaimana seharusnya sikap pengembang open source supaya tetap hidup ? Mungkin salah satu langkah adalah membuat versi proprietary yang lebih bagus untuk memberikan nilai tambah yang besar terhadap aplikasi versi open sourcenya :) Sehingga orang-orang mau membayar untuk mendapatkan versi proprietarynya.

Evolusi Lisensi Open Source untuk menghadapi Cloud Computing

Era cloud computing ini juga mau tidak mau memaksa perbaikan lisensi open source GPL menjadi Affero GPL yang bisa digunakan untuk melindungi aplikasi Open Source yang digunakan di dalam web server.

Affero GPL merupakan modifikasi dari GPL versi 3, di situ dinyatakan bahwa “Jika anda menjalankan aplikasi ini di dalam server dan membiarkan orang lain berkomunikasi dengan aplikasi tersebut, maka server anda harus juga memperbolehkan orang-orang tersebut mendownload source code dari program yang sedang berjalan. Jika program yang sedang berjalan adalah hasil modifikasi sendiri, maka para pengguna server itu harus juga bisa mendownload source code yang sudah dimodifikasi tersebut”.