Microsoft research menampilkan cara baru untuk mengedit video semudah edit foto…
Click gambar di atas jika anda tertarik untuk mengetahui demo Unwrap Mosaics ini…
Microsoft research menampilkan cara baru untuk mengedit video semudah edit foto…
Click gambar di atas jika anda tertarik untuk mengetahui demo Unwrap Mosaics ini…
Jika anda perhatikan sekitar anda, ada beberapa perusahaan yang sangat menguntungkan dan memiliki reputasi sangat baik tetapi mengalami tingkat pergantian karyawan yang sangat tinggi.
Baru saja saya menerima email dari seorang teman yang menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Saya pikir email ini cukup bagus dan saya ingin share dengan Anda.
Email ini cukup panjang, berikut ini adalah kesimpulannya :
Cuplikan email secara lengkap adalah sebagai berikut :
Azim Premji “Bill Gates” dari India
Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, "Bill Gates" dari India (terbitan Mizania 2007).
Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri teknologi informasi di India. Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana.
Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.
Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.
Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat.
Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru", katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini.
Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules.
Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing.
Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules.
Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.
Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit.
Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.
Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas.
Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu.
Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan.
Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan)?
Saya lahir dan dibesarkan di Indonesia. Bahkan setelah lulus sekolah, sayapun mencari nafkah di Indonesia.
Dalam perjalanan hidup dan karir saya, saya suka memperhatikan bermacam-macam jenis ras manusia. Yang bisa saya simpulkan selama ini adalah :
Saya banyak melihat tokoh2 yang ukuran tubuhnya pendek atau berpenampilan tidak menarik, tetapi sangat dikagumi masyarakat sekitarnya.
Saya juga banyak melihat tokoh2 yang fisiknya menarik namun menyebalkan dan tidak disukai banyak orang.
Saya juga melihat bahwa tinggal di suatu tempat tertentu lebih menyenangkan dibanding dengan tinggal di tempat lain, meskipun kualitas lingkungannya sama, dan sebagainya.
Akhirnya saya bisa menarik kesimpulan bahwa meski semua manusia adalah sama, namun yang membedakannya adalah kebiasaannya, kebudayaannya, cara dia berinteraksi, perilakunya, tata-kramanya, apresiasinya terhadap kesenian, dan sebagainya.
Mungkin untuk mudahnya saya bisa bilang bahwa sebilah pisau jika diberikan kepada A hanya akan menghasilkan ubi bakar, kalau diberikan kepada B akan menghasilkan ukiran yang indah, dan sebagainya.
Padahal A dan B bisa saja sama-sama orang Indonesia. Yang membedakan mungkin adalah asal dan kebiasaan dari A dan B.
Contoh lain adalah : Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber alam dan kreativitas. Namun jika dibandingkan dengan negara tetangga (misalnya Malaysia) yang tidak sekaya dan tidak sekreatif kita, rakyat Indonesia kalah sejahtera. Apalagi jika dibandingkan dengan negara Singapura.
Salahnya di mana ?
Bisakah Indonesia semaju atau lebih maju daripada mereka ?
Kita semua (termasuk orang2 di negara lain) punya impian yang sama : tidak ada kemiskinan, banyak lapangan kerja, pendidikan yang baik, pemerintahan yang bersih, dan hidup berkualitas.
Jika Anda punya mimpi seperti itu artinya bagus : Anda masih punya harapan.
Pada kesempatan kali ini saya mencoba membuatkan suatu diagram sederhana mengenai mimpi tersebut dan bagaimana cara kita mencapainya.
Di era digital seperti ini, banyak orang berpikir bahwa teknologi bisa menyelesaikan semuanya, termasuk membuat suatu negara menjadi kuat dan makmur. Padahal sebenarnya teknologi hanyalah suatu alat, yang kesuksesannya tergantung pada siapa yang memakainya (ingat contoh pisau tadi).
ICT = Information and Communication Technology memungkinkan semua orang berkolaborasi mewujudkan impian. Misalnya untuk mengurangi kemiskinan maka harus ada kerja sama yang erat antara badan-badan terkait, dukungan pemerintahan yang bersih, dan masyarakat yang berpendidikan dan memiliki nilai-nilai moral yang tinggi.
Framework yang saya gambarkan ini berlaku di manapun. Jika dibandingkan dengan implementasi di negara yang berbeda, paling yang membedakannya hanyalah “Culture”.
Indonesia terdiri dari belasan ribu pulau, ratusan bahasa, kebudayaan, ketrampilan dan kesenian yang berbeda-beda. Aset yang sangat luar biasa ini sayangnya belum tergali dengan baik. Bayangkan seandainya bisa tergarap dengan baik maka Indonesia akan mudah menjadi negara dengan ekonomi yang luar biasa.
Dalam tulisan ini saya akan membahas khusus (dari sisi ICT) mengenai bagaimana menggarap manusia Indonesia menjadi manusia yang terdidik dan siap mendorong kemajuan bangsa di dalam era digital ini.
Ada tiga hal yang bisa dilakukan dari sisi ICT untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia : Transformasi Pendidikan, Wadah Inovasi Lokal, dan Penciptaan Lapangan Kerja. Tiga hal tersebut saling kait-mengait (bagaikan roda bergigi di dalam suatu mesin) yang akan mendorong lajunya mesin “Indonesia” menuju impian !
Pendidikan yang berkualitas adalah dasar dari kesuksesan dan pertumbuhan. Di sini diperlukan guru, kurikulum, bahan pengajaran, dan jaringan yang bagus yang memungkinkan para pelajar saling berinteraksi dan berhubungan dengan pelajar lain di dunia luar. Kombinasi dari bahan pelajaran, kemitraan, training, dan akses yang mudah digabungkan dengan teknologi yang tepat untuk para penulis, penerbit, distribusi, pengajar, dan jaringan, akan mengubah sistem pendidikan kita.
Beberapa contoh langkah nyata untuk masalah ini adalah melengkapi para staf pengajar dengan alat-alat yang modern, pengadaan komputer murah, dan pemakaian satu komputer yang bisa dipakai beramai-ramai di dalam kelas…
Kreativitas dan inovasi lokal dapat menjadi motor untuk pertumbuhan ekonomi yang kuat. Di sisi ICT, kreativitas dan inovasi bisa didorong melalui teknologi industri software yang bisa dicapai melalui kerjasama yang erat antara pemerintah, pembuat software independen, universitas, bisnis kecil, dan penanam modal.
Salah satu langkah nyata dari perusahaan yang tanggap terhadap ini adalah dengan membuat beberapa pusat inovasi di universitas-universitas yang memungkinkan mahasiswa belajar menjadi pengusaha software, dan membuat program-program yang memungkinkan para pelajar dan mahasiswa mendapatkan software legal secara gratis…
Perangkat dan kemitraan yang tepat akan membantu orang untuk mendapatkan ketrampilan yang dibutuhkan dan pekerjaan yang diinginkan, selain juga membantu berjalan dan tumbuhnya bisnis. Penciptaan lapangan kerja ini membutuhkan kerjasama yang baik dengan pemerintah, organisasi nirlaba, bisnis lokal, dan institusi pendidikan untuk membantu orang-orang yang berminat menjadi pengusaha dan juga mempersempit jurang pengangguran.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan misalnya adalah program-program pelatihan gratis, forum-forum, pembelian komputer yang ringan dengan cara mencicil, dan pembagian komputer bekas yang sudah direkondisi.
Saya akan mulai dengan pengalaman pribadi saya.
Di dalam pekerjaan, saya sering sekali melakukan perjalanan dinas dan juga berkomunikasi dengan rekan-rekan dari negara lain.
Untuk mencapai semua target saya, saya tidak pernah melakukan pembatasan. Begitu saya ingin berdiskusi dengan seseorang atau dengan grup, maka saya biasanya akan menggunakan perangkat yang paling mudah saya akses. Biasanya saya gunakan ponsel saya dengan earphone supaya kedua lengan saya bebas bergerak (atau mencatat)… Enaknya saya bisa lakukan hal ini meskipun saya sedang terjebak di dalam kemacetan di tengah kota.
Semua hal di atas sangat meningkatkan produktivitas saya. Namun efek negatifnya adalah tagihan telepon saya kerap membengkak, dan pernah mencapai angka Rp 15 juta dalam sebulan.
Namun itu adalah cerita sebelum saya memanfaatkan fasilitas kantor yang disebut sebagai Unified Communication (atau UC). Dengan memanfaatkan UC, saya bisa menekan pengeluaran saya menjadi hanya sekitar Rp 500 ribuan setiap bulannya.
Bukan itu saja, perusahaan juga ternyata mendapatkan penghematan sampai 90% (artinya biaya komunikasi telepon bisa ditekan tinggal 10%-nya). Tentunya ada biaya yang meningkat, yaitu sekarang perusahaan memerlukan sambungan internet yang lebih cepat. Tapi berdasarkan pengeluaran yang saya amati, keuntungan yang kami dapatkan (tangible ataupun tidak) jauh lebih besar daripada biaya yang musti dikeluarkan untuk internet.
Kesuksesan bisnis masa kini sangat tergantung pada lancarnya komunikasi. Perusahaan yang memiliki jalur komunikasi yang lebih lancar (dan aman) akan memiliki peluang lebih besar daripada perusahaan yang memiliki hambatan dalam berkomunikasi.
Komunikasi di enterprise adalah landasan untuk berkolaborasi, di mana setiap karyawan dapat bekerja sama dengan erat dalam satu tim, misalnya saling melakukan update, saling berdiskusi, dan sebagainya.
Jaman dulu untuk melakukan hal ini, kita harus berkumpul di suatu tempat. Tetapi sekarang ada solusi teknologi di mana kita bisa melakukan hal ini di manapun, kapanpun, dan dengan cara apapun.
Teknologi komunikasi sekarang telah menembus batas ruang dan waktu.
Adalah sangat umum jika kita melakukan kolaborasi yang sangat erat meskipun dengan rekan kerja yang terpisah multiple zona waktu yang berbeda…
Namun demikian, sebenarnya hal ini menimbulkan banyak masalah baru di dunia enterprise :
Kemajuan telah membawa kita ke suatu era penggabungan teknologi, di mana sekarang kita telah menyaksikan perangkat ponsel yang bisa berfungsi sebagai komputer, perangkat komputer yang bisa menggantikan fungsi buku dan bisa berfungsi sebagai telepon, dan perangkat telepon yang bisa berfungsi sebagai terminal komputer dan sebagainya.
Teknologi ini tujuannya membuat hidup kita lebih nyaman, karena sekarang kita bisa bekerja dengan efisien dan efektif tanpa keharusan kita harus pergi ke kantor.
Sehingga sekarang kita banyak melihat orang-orang bekerja dengan nyaman di rumahnya atau di coffee shop. Semua ini sangat menyenangkan karena kita akan terbebas dari kemacetan, punya waktu lebih banyak untuk keluarga, dan dari sisi perusahaan juga akan terjadi penghematan yang besar dari sisi ukuran kantor, karena sekarang sebagian karyawan bisa kerja di luar kantor dan tidak perlu meja khusus di kantor. Meja & cubical bisa dipakai bersama-sama (sharing).
Konvergensi teknologi membawa dampak besar di dunia telekomunikasi. Arsitektur dunia telekomunikasi yang dulunya tersentralisasi dengan perangkat seukuran gedung, sekarang menyusut ke dalam beberapa perangkat komputer dan jaringan yang jauh lebih sederhana, namun dengan kemampuan yang jauh lebih besar.
Semua ini dimungkinkan karena adanya teknologi VoIP (suara yang dikirimkan melalui internet).
Teknologi ini berkembang sedemikian rupa, sehingga sekarang ini kita bisa berkomunikasi ke seluruh dunia dengan ‘gratis’ (= murah sekali). Trend ini sangat menakutkan operator-operator telepon, sehingga mereka harus menemukan cara-cara baru yang lebih kreatif kalau tidak mau ditinggalkan pelanggannya. Contoh yang jelas di sekitar kita adalah, operator telepon sekarang menawarkan jasa Internet melalui sambungan telepon di rumah….
Teknologi VoIP yang diawali sebagai percobaan di Internet satu dekade yang lalu, sempat menghebohkan dunia telekomunikasi, sekarang telah berkembang sedemikian rupa dengan kemajuan di bidang software (perangkat lunak). Software inilah yang menjadi otak yang memungkinkan perangkat komputer-komputer (termasuk laptop dan ponsel pintar) berubah menjadi perangkat telepon dan video conferencing yang luar biasa.
Jika komputer yang menjalankan software ini digabungkan dengan perangkat telepon di perusahaan (misalnya PABX), maka kita akan dapat menerima dan membuat panggilan kepada siapapun, tidak peduli dia berada di dalam jaringan internet maupun di jaringan selular atau jaringan telepon biasa (PSTN).
Teknologi ini juga malah bisa menggabungkan komunikasi menggunakan radio HT (Handy Talky).
Sehingga dengan penggabungan segala macam media komunikasi ini : VoIP, HT, PSTN, Seluar, Instant Messaging, Video Conference, dan sebagainya, kita tidak lagi memiliki batas dalam berkomunikasi.
Sekarang kita memasuki era baru dalam komunikasi yang disebut sebagai “Unified Communications” – yaitu era berkomunikasi yang konvergen.
Di bawah ini adalah gambar Magic Quadrant hasil riset Gartner pada Agustus 2007. Di sini terlihat bahwa leader di bidang ini adalah Microsoft.
Unified Communication (atau disingkat sbg UC) menawarkan kemampuan meningkatkan setiap orang, grup, atau perusahaan untuk berinteraksi dan melakukan pekerjaan dengan jauh lebih baik. UC memungkinkan penggabungan bermacam-macam media komunikasi seperti : PABX, VoIP, Email, Audio/Video conferencing, Voice Mail, Instant Messaging, Radio HT, dan sebagainya.
UC juga memungkinkan penggabungan komunikasi dengan proses bisnis, sehingga Gartner menyebut kemampuan ini sebagai “Komunikasi yang melandasi Proses Bisnis”
Keuntungan utama dari UC adalah kemampuan untuk mengurangi hambatan manusia di dalam proses bisnis. Faktor manusia inilah yang kerap kali membuat semua proses (terutama di pemerintahan) berjalan sangat lambat, misalnya pembuatan KTP yang berminggu-minggu bisa dipercepat menjadi hitungan menit dengan bantuan teknologi UC ini.
UC dari Microsoft meletakkan manusia di tengah-tengah roda proses bisnis. UC memberikan pengalaman baru kepada kita dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti : email, kalendar, bekerja dalam satu tim, chat, instant messaging, VoIP, audio/video conference, aplikasi perkantoran yang terintegrasi, di manapun, kapanpun, dengan media apapun.
Salah satu keunggulan utama dalam berkomunikasi dengan UC adalah KEAMANAN.
Tahukah anda bahwa setiap percakapan melalui telepon, apapun jenisnya mulai dari telepon rumah/kantor/GSM/CDMA dan sebagainya, termasuk radio HT bisa dengan sangat mudah disadap ? Setiap orang yang punya akses ke jaringan telekomunikasi bisa mendengarkan setiap percakapan orang lain tanpa diketahui.
Dan tahukah anda bahwa percakapan (dan SMS) yang anda lakukan itu semua ada rekamannya ? Rekaman ini bisa diperdengarkan kembali, pada umumnya untuk keperluan pengadilan atau penyelidikan kepolisian.
Semua itu sebenarnya baik, namun jika anda ingin kerahasiaan anda terjamin, maka UC memberikan keamanan ekstra, di mana setiap percakapan anda bisa diacak menggunakan teknik enkripsi yang sangat kuat. Sehingga jika ada pihak yang bisa melakukan menyadapan, maka hasil penyadapan itu tidak bisa diplayback ulang…. (kecuali dengan usaha yang luar biasa keras dan dengan dukungan perangkat yang sangat kuat).
Keuntungan lain dengan UC ini adalah kita cukup menggunakan satu identitas saja (misalnya email address) untuk berkomunikasi dengan media apapun.
Di bawah ini adalah contoh sebuah kartu nama dari Alex Hankin dari Contoso Ltd, yang memiliki banyak sekali informasi mengenai nomor telepon, email, dan sebagainya. Dengan UC kita bisa menggunakan hanya email address saja untuk mengakses semua media akses yang ada. Kalaupun anda lupa dengan email addressnya, anda bisa mencarinya hanya dengan namanya saja.
Model solusi UC memutar perhitungan biaya 90 derajat untuk mendapatkan biaya yang lebih murah :
Model Vertikal : Pada model ini setiap fungsi atau kemampuan di dalam jaringan berbentuk silo yang tersusun ke atas. Setiap penambahan fungsi atau kemampuan baru, terjadi penambahan biaya dan kerumitan. Hal ini tidak efisien dan mahal, akan terjadi proses komunikasi yang berlebih-lebihan, dan borosnya biaya karena harus memelihara jaringan yang parallel.
Model Horizontal : Pada model ini kita bisa menggunakan sebuah platform saja untuk mendukung bermacam-macam fungsi atau kemampuan baru. Arsitektur ini bersifat standard dan terdistribusi, yang menawarkan akses ke manapun di seluruh jaringan dengan menggunakan sebuah database saja.
Keuntungan dari perubahan model vertikal ke horizontal ini adalah : penyederhanaan dan biaya yang jauh lebih murah. Apalagi jika anda sudah memiliki komputer dan jaringan yang memadai (sebagai platform).